PELAYANAN KANTOR KELURAHAN DAN KECAMATAN DI KABUPATEN SAYA
Pengalaman ini saya dapatkan saat saya baru saja lulus dari SMA. Saat itu saya akan melanjutkan menuntut ilmu ke perguruan tinggi favorit yang saya inginkan. Untuk bisa mendaftar di perguruan tinggi tersebut diperlukan syarat- syarat pendaftaran diantaranya adalah surat keterangan belum menikah. Surat tersebut dibuat berdasarkan rujukan dari RW setelah sebelumnya saya meminta untuk dibuatkan surat rujukan tersebut yang ditujukan ke kantor kelurahan tempat dimana saya tinggal. Untuk lebih mudahnya, disini saya akan menyebut tempat dimana saya tinggal adalah kelurahan X, kecamatan Y, kabupaten Y.
Dalam tulisan saya ini saya hanya mencoba membandingkan pelayanan yang saya dapat dari kedua kantor di kabupaten Y, yaitu kantor kelurahan X dan kantor kesamatan Y. Singkat cerita setelah saya mendapatkan surat dari RW tersebut, besoknya saya bergegas menuju kantor kelurahan saya yaitu kantor kelurahan X untuk mendapatkan surat bukti dari kelurahan yang nantinya akan dirujuk kembali ke kantor kecamatan.
Pada waktu saya berada di kantor X saya mendapatkan pelayanan yang dapat membuat siapapun yang mepunyai kepentingan di kantor tersebut senang. Di kantor tersebut, pertama- tama pelayanan yang saya dapatkan adalah ucapan selamat datang dari bapak dan ibu yang bekerja di kantor tersebut ditambah pula dengan senyuman para pegawai yang mengisaratkan bahwa mereka senang menerima siapapun yang mempunyai kepentingan dan urusan di kantor tersebut. Hal ini membuat saya tidak canggung dan gugup berurusan dengan para “ birokrat “ yang baru pertama kalinya saya rasakan. Setelah antri menunggu giliran [maklum pada hari itu orang yang berkepentingan di kantor X tersebut lumayan banyak], akhirnya tibalah giliran saya untuk mengutarakan maksud dan kepentingan di kantor tersebut. Saya dilayani oleh seorang bapak yang usianya sekitar 50-an. Bapak tersebut menanyai apa yang saya perlukan dan saya memberikan surat rujukan dari RW yang digunakan untuk membuat surat keterangan belum menikah. Setelah diterima, bapak tersebut tersenyum dan berkata “untuk kepentingan apa surat ini dik?” dan saya jawab “untuk syarat masuk perguruan tinggi pak”. Setelah itu bapak tersebut meminta KTP saya dan segera mengerjakan surat permintaan saya tersebut sambil diselingi pembicaraan yang asyik antara beliau dengan saya. Akhirnya setelah sekitar 15 menit, form surat keterangan belum menikah yang saya butuhkan telah selesai. Setelah itu beliau menyuruh saya menunggu sebentar karena beliau masih akan memintakan tanda tangan ke kepala kelurahan saya. Sekitar 10 menit kemudian beliau keluar dengan membawa surat yang telah ditanda-tangani bapak lurah dan menyuruh saya kekantor kecamatan untuk mendapatkan tanda tangan bapak camat. Pelayanan dengan waktu yang cukup cepat menurut saya. Kurang dari 45 menit surat keterangan belum menikah yang saya butuhkan telah selesai. Saya berterima kasih kepada beliau dan pada waktu itu saya sudah menyiapkan uang untuk membayar surat tersebut. Akan tetapi tanpa disangka- sangka beliau berkata “ gak usah bayar di kantor kelurahan X ini dik, lebih baik uangnya buat kepentingan sekolah adik saja”. Saya semakin bangga akan pelayanan kantor kelurahan saya tersebut.
Esok harinya seperti yang diminta bapak pegawai kelurahan kemarin, saya menuju ke kantor kecamatan Y untuk mendapatkan tanda tangan dan pengesahan dari kecamatan atas surat keterangan belum menikah yang saya bawa. Akan tetapi pelayanan yang saya terima jauh berbeda dari yang saya dapat kemarin di kantor kelurahan X. Begitu tiba di kantor tersebut saya disuguhi wajah- wajah kurang bersahabat dari para pegawainya. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya tibalah giliran saya menyatakan maksud dan tujuan saya datang ke kantor tersebut. Saya diterima oleh bapak- bapak dengan umur sekitar 40 tahun. Bapak tersebut berwajah sangat dingin sehingga terkesan “galak”. Beliau meminta berkas surat saya dan beliau langsung lenyap begitu saja tanpa mempersilakan saya untuk menunggu [saat itu saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan, apakah saya harus menunggu di tempat duduk saya sekarang ini atau menunggu di tempat lainnya]. Akhirnya beliau kembali setelah 15 menit saya menunggu. Beliau berkata “kembalilah kesini nanti 2 jam lagi” dengan wajah yang tetap dingin. Setelah 2 jam berlalu, saya kembali lagi ke kantor tersebut. Dan lagi- lagi disambut oleh bapak tadi juga tetap dengan wajahnya yang dingin. Akhirnya setelah melalui proses yang lama dan berputar putar surat tersebut telah selesai dan diberikan kepada saya. Dan yang mengagetkan saya adalah bapak tersebut menyodorkan kotak sambil berkata “sumbangan sukarelanya dik”. Saya sangat kaget dengan apa yang beliau katakan. Akhirnya saya membayar uang sebesar lima ribu rupiah. Setelah itu saya pulang dengan perasaan kecewa akan pelayanan kantor kecamatan Y yang sangat berbeda dengan kantor kelurahan X. Demikian pengalaman yang saya punya di dua kantor pemerintahan dikota saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar